Mengenal Investasi Reksadana Untuk Pemula [Lengkap]

Investasi Reksadana
(Sumber: Blog-emas.com)

Investasi reksadana tidak lepas dari kondisi market yang dapat bergairah (bullish), lesu (bearish) atau tidak bergerak secara signifikan (sideways). Kondisi market yang berubah-ubah semacam ini terkadang membuat investor bertanya-tanya kapan saat yan tepat untuk membeli reksadana dan jurus apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian?

Jawabannya sungguh tidak mudah karena tidak ada panduan baku kapan timing yang tepat untuk masuk ke pasar melalui reksadana. Strategi market timing merupakan strategi yang sulit untuk diterapkan dimana titik terendah dan tertinggi baru dapat kita ketahui apabila kedua titik tersebut sudah terlewati.

Strategi Investasi Reksadana yang Harus Anda Ketahui

Investasi Reksadana
(Sumber: Tokopedia.com)

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan investor saat akan menginvestasikan uangnya melalui reksadana. Berikut adalah beberapa strategi investasi beserta contoh perhitungan.

Lump-sum

Lump-sum berarti menginvestasikan seluruh dana diawal periode. Misalnya, uang sebanyak Rp. 1,2 juta yang khusus digunakan untuk berinvestasi reksadana dibelikan seluruhnya untuk memborong reksadana.

Kelebihan strategi ini adalah Anda tidak dipusingkan dengan timing dan pengalokasian karena seluruh dana sudah ditanamkan disaat awal. Hanya saja, strategi ini dapat merugikan ketika membeli reksadana saat market sedang mencapai puncak dimana Anda mendapatkan harga per unit penyertaan pada harga yang tinggi juga. Jika market berbalik arah, Anda akan rugi.

Baca Juga : 11 Langkah Cerdas Mengatur Keuangan Agar Tidak Habis Menjelang Akhir Bulan

Misalnya, Anda menginvestasikan uang sebesar Rp. 1,2 juta dengan membeli reksadana pada saat NAB atau harga per unit penyertaan Rp. 1.000. Dengan asumsi tidak ada biaya pembelian, maka jumalah unit yang akan diperoleh adalah 1.200 unit (Rp. 1,2 juta : Rp. 1.000).

Investasi Reksadana

Nilai investasi yang akan diperoleh kemudian akan bergantung pada NAB per unit penyertaan pada saat itu. Misalnya, jika pada bulan Desember NAB per unit reksadana tersebut adalah Rp. 1.100, maka nilai investasi pada saat itu menjadi Rp. 1.320.000 (1.200 unit x Rp. 1.100).

Constant Share (CS)

Constant share berarti Anda menginvestasikan dana untuk membeli reksadana dengan jumlah unit yang sama secara berkala. Besarnya dana yang dikeluarkan akan bervariasi tergantung pada NAB atau harga per unit penyertaan pada saat pembelian.

Misalnya, setiap bulan Anda menyisihkan uang untuk membeli 100 unit penyertaan selama satu tahun. Besarnya dana yang Anda keluarkan adalah sebesar unit penyertaan yang dibeli dikalikan dengan NAB per unit pada saat pembelian.

Investasi Reksadana

Nilai investasi yang akan diperoleh kemudian akan bergantung pada NAB per unit penyertaan pada saat itu. Misalnya, jika pada bulan Desember NAB per unit reksadana terseebut adalah Rp. 1.025, maka nilai investasi pada saat itu menjadi Rp. 1.230.000 (1.200 unit x Rp. 1.025)

Dollar Cost Averaging (DCA)

DCA dilakukan dengan cara menginvestasikan dana dalam jumlah yang tetap secara berkala (misalnya seminggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali) selama periode waktu tertentu (misalnya selama lima tahun). Contoh, Anda secara rutin menginvestasikan Rp. 100.000 per bulan selama satu tahun. Strategi ini dilakukan dengan tidak memperdulikan kondisi pasar atau perekonomian. Saat pasar sedang bergairah atau melemah, perekonomian dalam kondisi krisis atau tidak, Anda tetap melakukan investasi secara rutin.

Ketiga tabel berikut adalah ilustrasi investasi reksadana dengan cara DCA dalam kondisi market fluktuatif, naik dan turun yang ditunjukan dengan kenaikan dan penurunan NAB per unit.

Investasi Reksadana

Dari tabel tersebut, harga NAB per unit rata-rata yang diperoleh adalah Rp. 1.100 dengan nilai investasi pada akhir periode sebesar Rp. 1.117.805

Investasi Reksadana
Investasi Reksadana

Value Averaging (VA)

Value averaging adalah strategi investasi dengan cara menginvestasikan dana dalam jumlah tertentu secara berkala sehingga pertambahan nilai investasinya selalu tetap. Saat harga turun, Anda membeli lebih banyak dan sebaliknya saat harga naik, Anda membeli lebih sedikit untuk menyesuaikan nilai investasi.

Misalnya, Anda menginvestasikan uang sebesar Rp. 1 juta dan menginginkan investasi tersebut bertambah Rp. 100 ribu setiap bulan. Setelah bulan pertama, Anda harus melihat nilai aktual investasi dan mencari tahu perbedaan antara nilai yang diinginkan dan nilai aktual.

Jika nilai yang diinginkan lebih besar dari nilai aktual, maka Anda perlu menambah investasi dengan membeli kembali reksadana untuk menutup ’kekurangan’ tersebut. Misalnya, jika nilai investasi yang dinginkan adalah Rp. 1.100.000 tetapi saat itu hanya bernilai Rp. 950.000, maka Anda harus menambah investasi sebesar Rp. 150.000.

Sudah ada gambaran sedikit kan mengenai Investasi Reksadana, Sekarang mari kita bahas tahapan Investasi Reksadana

Tahapan Investasi Reksadana

Tidak jauh berbeda dengan beberapa jenis instrumen investasi, investasi melalui reksadana juga melalui beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh calon investor. Berikut adalah beberapa langkah praktis bagi investor yang memilih reksadana sebagai salah satu instrumen investasi.

Menetapkan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi

Perencanaan investasi dimulai dengan menentukan tujuan investasi yang ingin dicapai dari investasi tersebut. Saat reksadana menjadi instrumen untuk berinvestasi, maka Anda juga perlu merumuskan tujuan investasi yang akan dicapai dengan berinvestasi melalui reksadana.

Langkah yang perlu dilakukan adalah menuliskan tujuan-tujuan investasi yang ingin dicapai, misalnya untuk memiliki dana darurat, pendidikan anak, pesangon saat pensiun dan sebagainya. Setelah itu, pisahkan tujuan keuangan tersebut sesuai target waktu jangka pendek, menengah dan panjang.

Berikut adalah contoh tujuan investasi yang ingin dicapai dalam jangka pendek, menengah dan panjang sesuai urutan prioritas yang pada intinya menjawab pertanyaan tentang:

  • Untuk apa dana hasil investasi reksadana akan digunakan?
  • Kapan uang hasil investasi reksadana akan digunakan?
Tujuan InvestasiJangka Waktu
Memiliki dana siaga sebesar Rp. 20 jutaJangka Pendek
Memiliki uang sebesar Rp. 30 juta untuk sekolah diprogram magisterJangka Menengah
Membeli mobil baru senilai Rp. 150 jutaJangka Menengah
Memiliki uang di bank untuk biaya hidup saat pensiun minimal Rp. 1 milyarJangka Panjang
Memiliki ruko senilai Rp. 750 juta untuk disewakanJangka Panjang

Memilih Jenis Reksadana

Setelah menentukan tujuan dan jangka waktu investasi, reksadana jenis apa yang kemudian harus dipilih untuk mencapai tujuan tersebut?

Tujuan InvestasiJangka WaktuJenis ReksaDana
LikuiditasPendekPasar Uang
Pertumbuhan / Pertambahan NilaiMenengahCampuran
ProteksiMenengahTerproteksi
Pertambahan NilaiMenengahPendapatan Tetap
PertumbuhanPanjangSaham / Indeks

Sebagai contoh, jika tujuan investasi melalui reksadana adalah untuk menjaga likuiditas dana yang setiap saat siap untuk digunakan, reksadana pasar uang adalah pilihan yang dapat dapat digunakan. Keuntungan yang dapat diperoleh biasanya tidak akan terpaut jauh dengan tingkat suku bunga deposito sehingga tidak sesuai untuk sarana investasi dengan orientasi pembiakan dana. Namun, jika tujuan investasinya ingin membiakan dana saat ini untuk dapat digunakan pada saat pensiun nanti, reksadana saham adalah jenis yang dapat dipilih.

Untuk lebih dari tujuan investasi, Anda dapat memilih beberapa jenis reksadana sekaligus misalnya reksadana pasar uang, pendapatan tetap dan saham. Intinya, Anda dapat memiih beberapa jenis reksadana untuk tujuan investasi yang berbeda.

Selain tujuan dan jangka waktu investasi, tingkat toleransi Anda terhadap risiko juga harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis reksadana karena masing-masing jenis reksadana juga memiliki kadar risiko yang sepadan dengan return yang bisa diperoleh. Makin tinggi keuntungan yang diharapkan, makin tinggi pula risikonya.

Masing-masing individu memiliki preferensi yang berbeda terhadap risiko yang secara teoritis dibagi menjadi tiga yaitu risk avoider (konservatif, penghindar risiko), risk neutral (moderat, cukup toleran terhadap risiko) dan risk seeker (agresif, sangat bisa menerima risiko).

Potensi Risk & ReturnJenis ReksaDana
RendahPasar Uang
RendahTerproteksi
ModeratCampuran
ModeratPendapatan Tetap
TinggiIndeks
Sangat TinggiSaham

Dengan mempertimbangkan risiko, maka sangat mungkin terjadi trade off saat memilih jenis reksadana. Misalnya, pilihan terhadap reksadana saham yang memiliki risiko tinggi tidak akan sesuai untuk investor yang kebetulan konservatif atau alergi terhadap risiko.

Jeni mana yang kemudian harus dipilih, kembali kepada Anda sebagai investor apakah memprioritaskan reksadana berdasar tujuan atau risiko investasi.

Periodic Review

Setelah berinvestasi melalui reksadana, investor bisa dikatakan tidak memerlukan banyak waktu untuk mengamati pasar, tetapi mengamati kinerja reksadana itu adalah wajib dilakukan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu reksadana.

Cara umum yang digunakan adalah dengan melihat NAB atau harga per unit penyertaan. Anda dapat menghitung prosentase keuntungan yang diperoleh dengan membandingkan antara harga unit penyertaan saat ini dengan harga saat pembelian. Misalnya, jika Anda membeli saat NAB per unit Rp. 1.000 dan saai ini NAB per unit Rp. 1.500, maka return yang diperoleh adalah 50%.

Dengan publikasi yang dilakukan melalui surat kabar bisnis seperti harian Bisnis Indonesia, Investor Daily atau laporan kinerja yang secara periodik dikeluarkan, Anda juga dapat melihat kinerja reksadana selama jangka waktu tertentu, misalnya dalam waktu 1 bulan, 1 tahun atau sejak saat pertama kali diterbitkan.

Untuk melihat apakah return tersebut sesungguhnya menguntungkan atau tidak, maka diperlukan tolok ukur (benchmark) lain sebagai perbandingan. Tolok ukur yang biasanya digunakan adalah kinerja dari aset bebas risiko (risk free asset) seperti deposito atau suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Return yang diperoleh dari reksadana tersebut seharusnya lebih tinggi daripada tingkat pengembalian yang diperoleh dari aset bebas risiko. Jika lebih rendah dari tingkat suku bunga deposito atau SBI, untuk apa bersusah-payah berinvestasi melalui reksadana yang jelas-jelas memiliki risiko?

Metode yang biasa digunakan untuk membandingkan kinerja reksadana dengan risk free asset adalah metode Sharpe, Treynor dan Jensen dimana ketiganya menyertakan risiko dalam menghitung kinerja reksadana. Sharpe menggunakan ukuran standar deviasi, sedangkan Treynor dan Jensen menggunakan beta sebagai pengukur risiko.

Tolok ukur yang biasanya digunakan adalah dengan membandingkan return reksadana tersebut dengan hasil dari investasi lain yang memiliki karakteristik sama. Misalnya, kinerja reksadana saham dapat dibandingkan dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) sedangkan untuk kinerja reksadana pasar uang dapat dibandingkan dengan rata-rata tingkat pengembalian deposito.

Mengapa Berinvestasi Di Reksadana?

Investasi Reksadana
(Sumber: Pusatpintuharmonika.com)

Don’t put all your egg in one basket”, kredo investasi yang sering kita dengar ini pada intinya memberi pesan agar jangan menempatka seluruh uang dalam satu wadah karena jika wadah itu bocor atau pecah, maka uang yang sudah susah payah kita kumpulkan tersebut dapat lenyap tak berbekas. Jadi, tempatkanlah uang itu pada beberapa wadah untuk meminimalkan resiko.

Jika berinvestasi di pasar modal, ada beberapa wadah yang dapat Anda pilih sebagai ladang pembiakan uang seperti saham atau obligasi. Dengan menempatkan uang pada kedua instrumen ini, resiko kerugian dapat direduksi.

Demikian pula jika hanya memilih saham sebagai wadah investasi, seluruh uang yang Anda investasikan seharusnya tidak dialokasikan hanya untuk memborong saham di satu sektor industri atau perusahaan saja. Misalnya, uang tersebut Anda alokasikan untuk mengkoleksi saham-saham perusahaan yang bergerak di industri perbankan, pertambangan, perkebunan dan sebagainya.

Dalam teori investasi, diversifikasi atau penyebaran (alokasi) aset semacam ini bertujuan untuk mengurangi tingkat resiko tidak sistematis dengan tetap memberikan tingkat potensi keuntungan yang optimal. Sayangnya, tidak semua investor piawai dalam memilah instrumen apa saja yang sebaiknya dikoleksi untuk mengoptimalkan dana yang ada. Selai itu, diversifikasi jelas membutuhkan dana yang besar untuk membeli saham pilihan.

Misalnya, dengan memiliki reksadana NISP Indeks Saham Progresif, portofolio investasi dapat terdiri dari saham Telkom, Perusahaan Gas Negara, BRI, Astra International dan BCA. Bandingkan, jika kelima saham tersebut dibeli langsung tanpa melalui reksadana, maka jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli masing-masing 1 lot (100 lembar saham) saja lumayan besar.

Disinilah reksadana dapat memainkan perannya. Investor tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis instrumen investasi apa saja yang layak menjadi portofolio investasi karena manajer investasi-lah yang akan melakukannya. Dengan dana yang minim, investor juga bisa melakukan diversifikasi melalui kumpulan dana dari investor lain yang dikelola oleh manajer investasi.

Untung-Rugi Reksadana

Berbeda dengan tabungan yang memiliki kepastian pengembalian, investasi memiliki dua sisi yang berbeda yang akan selalu ada yaitu risk (risiko) dan return (keuntungan). Dengan demikian, tidak ada satupun instrumen investasi termasuk reksadana yang bisa memberi janji pasti untung karena ada risiko yang akan tetap melekat.

Ini bukan berarti bahwa investor harus menjauh dari instrumen investasi seperti reksadana karena dibalik risiko yang tinggi juga ada peluang memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi juga (high risk high return). Walau tidak dapat dihilangkan, risiko ternyata dapat direduksi yang salah satunya bisa dilakukan dengan diversifikasi melalui instrumen investasi yang bernama reksadana.

Manfaat dan Keuntungan Reksadana

Investasi Reksadana
(Sumber: Catatanmini.com)

Reksa dana memberikan keuntungan bagi investor tanpa harus selalu memonitor aktivitas perdagangan di bursa saham karena investasinya di urus oleh pengelola reksa dana atau manajer investasi. Selain kemudahan itu masih ada beberapa manfaat atau keuntungan lagi yang Anda dapatkan apabila Anda berinvestasi pada reksadana, seperti :

  • Diversifikasi investasi dan penyebaran resiko
    Besarnya dana yang dikelola oleh reksa dana memungkinkan pengelola untuk mendiversifikasikan investasinya ke berbagai jenis efek (saham, obligasi, pasar uang), tidak tergantung pada satu atau beberapa instrumen saja, sehingga ada penyebaran resiko (minimalisasi resiko).
  • Dana pembelian reksa dana relatif murah
    Secara tidak langsung Anda dapat membeli saham Blue Chip atau obligasi yang harganya sangat mahal melalui reksa dana walaupun dalam jumlah kecil. Jumlah investasi relatif rendah namun memiliki akses benefit berinvestasi seperti halnya dalam jumlah yang lebih besar.
  • Pengelolaan portofolio yang profesional
    Dana Anda di kelola oleh tenaga profesional dan berpengalaman yang disebut sebagai manajer investasi, mereka mempunyai akses informasi pasar melalui banyak sumber, sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih akurat untuk kepentingan investasi Anda. Anda juga bebas dari pekerjaan administrasi dan analisa investasi, sehingga Anda melakukan investasi dengan mudah dan fleksibel.
  • Biaya rendah
    Biaya relatif akan lebih kecil karena dana di kelola dalam jumlah yang sangat besar secara profesional, sehingga akan menciptakan efisiensi dalam pengelolaannya.
  • Likuiditas terjamin
    Apabila Anda ingin menjual kembali reksa dana Anda, maka manajer investasi wajib membelinya kembali.
  • Pemerataan kesempatan investasi
    Pasar modal selama ini masih dianggap sebagai lahan investasi bagi para pemilik modal besar atau bagi yang memiliki akses informasi yang baik. Melalui reksa dana, investor pemilik modal kecil mendapat kesempatan untuk ikut menanam uangnya di pasar modal.
  • Aman dan transparansi dalam informasi
    Seluruh aset reksa dana disimpan dan dijaga oleh pihak ke tiga, yaitu bank kustodian dan diaudit dua kali dalam setahun oleh akuntan publik. Manajer investasi harus mengeluarkan laporan Nilai Aktiva Bersih dalam surat kabar setiap hari dan menerbitkan laporan keuangan setiap semester agar investor dapat mengetahui perkembangan dana investasinya. Setiap investasi diawasi oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan dilindungi Undang-Undang.

Reksa dana yang merupakan salah satu wadah investasi secara kolektif dapat menjadi pilihan investasi yang tepat untuk menyimpan uang Anda. Pahamilah tujuan Anda berinvestasi dalam reksa dana dan berapa tingkat penghasilan yang Anda inginkan. Jika semua keperluan sudah direncanakan dengan matang, maka untuk memenuhi kebutuhan itu pun relatif lebih mudah ketersediaannya.

Biasakanlah melakukan investasi dengan teratur setiap bulan dari bagian gaji yang Anda terima sebelum semuanya habis dibelanjakan. Dengan berinvestasi di reksa dana, maka Anda sedang berinvestasi untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Selamat berinvestasi dan menikmati hasil investasi Anda dari reksa dana…!

Penerapan Investasi Reksadana

Bapak Achmad, seorang karyawan perusahaan swasta yang berusia 35 tahun sedang bingung memilih investasi apa yang akan dilakukan untuk mempersiapkan biaya kuliah putra-putrinya kelak.

Salah satu contoh kejadian di atas tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebagai orang tua pasti mempunyai keinginan untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu pengetahuan setinggi mungkin agar mereka dapat menjadi orang yang sukses. Namun seringkali orang tua tidak siap dari segi dana saat anak-anak mereka masuk sekolah.

Bagaimana pula dengan persiapan masa pensiun Anda? Dengan semakin tingginya tingkat biaya hidup dari tahun ke tahun, akan menimbulkan kekhawatiran pada setiap orang apakah mereka masih dapat membiayai kehidupan mereka pada saat memasuki usia pensiun nanti.

Setiap manusia pasti mempunyai kebutuhan dalam setiap tahap kehidupannya, dan apabila kita dapat memenuhi kebutuhan tersebut, maka akan memberikan rasa kepuasan dan ketenangan bagi hidup kita. Tidak ada yang dapat menjamin bahwa penghasilan atau keadaan keuangan akan tetap baik seperti sekarang ini.

Banyak faktor di luar sana yang tidak terduga dapat tiba-tiba membuat Anda terancam di PHK atau Anda mengalami kebangkrutan usaha yang selama ini telah berjalan dengan baik. Bagaimana jika Anda tidak lagi mempunyai penghasilan dan belum mempunyai persiapan apapun?

Apakah pernah terpikirkan oleh Anda apabila hal tersebut terjadi pada diri Anda? Jika hal tersebut terjadi apakah yang harus Anda lakukan? Paling tidak dengan melakukan persiapan dan perencanaan keuangan yang baik, Anda dapat melakukan antisipasi terhadap kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai di masa depan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar dapat melipatgandakan uang sehingga dapat memenuhi kebutuhan? Investasi…! Adapun objektivitas dasar dari sebuah investasi adalah berusaha untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin dalam batas toleransi yang wajar dengan tetap konsisten terhadap tujuan awal investasi dan mempertimbangkan batas-batas penerimaan tingkat resiko.

Investasikan uang Anda pada investasi yang tepat. Dengan berinvestasi secara konsisten ke dalam instrumen investasi yang tepat, Anda memiliki peluang untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi di bandingkan dengan tabungan, deposito maupun laju tingkat inflasi.Walaupun ada resiko investasi di baliknya, namun dengan jangka investasi yang panjang, hasil akhirnya akan dapat memenuhi kebutuhan kita.

Tentunya pilihan instrumen investasi yang dipilih oleh setiap orang berbeda. Salah satu aturan dasar dalam melakukan investasi adalah menyesuaikan investasi dengan kepribadian dan kebutuhan Anda, inilah suatu kunci keberhasilan dalam berinvestasi. Suatu hal yang mungkin kelihatannya sangat sederhana atau dianggap sepele, tapi banyak orang yang salah dalam menerapkannya.

Ada banyak cara yang dilakukan orang dalam menginvestasikan dana yang dimilikinya. Berikut ini adalah beberapa contoh pilihan investasi, seperti deposito berjangka, obligasi, SBI, saham, unit link, properti, valuta asing, emas, barang seni / barang antik, dan reksa dana. Dari sekian banyak pilihan instrumen investasi yang sangat beraneka ragam tersebut, masing-masing memiliki keunggulan.

Salah satu jenis investasi yang sangat menarik untuk perencanaan keuangan jangka panjang Anda adalah reksa dana. Sifat investasinya lebih aman karena dikelola oleh pakar investasi keuangan dan di dalam investasinya sendiri dapat dilakukan diversifikasi secara optimal sesuai dengan kepribadian (profil) dan kebutuhan investasi Anda, sehingga mengurangi potensi resiko kerugian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *