Praktik Sakinah Finansial: Alokasi Pengeluaran I

  1. Alokasi Pengeluaran

Pendapatan keluarga dapat kita alokasikan untuk beberapa pengelauran yang masuk kategori needs. Secara umum, pengeluaran dapat dikelompokkan dalam beberapa pos penting sesuai dengan skala priorias yang diinginkan. Sebagai ilustrasi, kita akan mengasumsikan pendapatan yagn diterima (take home pay) sebesar Rp 10.000.000 dan pada bagian akhir setiap pos pengelauran akan dihitung berapa sisa uang ada setelah semua kewajiban tersebut ditunaikan.

Anda bisa menyusuun sendiri alokasi pengeluaran yang real sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran keluarga masing-masing. Angka Rp 10.000.000 sebagai ilustrasi yang memudahkan saja, prinsip dasarnya bisa diterapkan uuntuk berapa pun pendapatan anda.

Berikut adalah aturan sederhana dalam mengalokasikan anggaran belanja:

  1. Membayar kewajiban utang

Utang merupakan kewajiban utama dan harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Jika nilainya kecil, bisa dibayar luunas pada kesempatan pertama. Namun, sekiranya jumlahnya besar, dapat dibayarkan secara berangsur sesuai dengan kesepakatan pemeberi utang. Besaran angsuran dan pembayaran utang sebaiknya 15-20% dan tidak lebih dari 40% dari total pendapatan karena masih ada kewajiban lain yang juuga bersifat dharuriyyat, seperti untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang keluarga kita.

Perlu diperhatikan juga potensi timbulnya riba dalam perjanjian utang piutang. Adanya faktor riba dan faktor-faktor lain, seperti merendahkan posisi kita di mata pemberi pinjaman, utang sedapat mungkin dihindari. Ada alternatif lain yang bisa kita cari untuk menggantikan akad uutang yang nanti dibahas dalam pengolaan defisit.

Namun, jika kita sudah terlanjur mempunyai hutang, wajib diprioritaskan seabgai pengeluaran pertama dari setiap kali menerima gaji/ pendapatan. Ini sangat krusial, karena ketika kita meninggal dan dalam kondisi masih berutang, kita masih terikat dengan dunia selama belum dilunasi.

Perlu dicatat juga adalah anjuran untuk mencatat dengan minimal dua saksi untuk setiap transaksi utang piutang. Sering kali ahli waris tidak mengetahui apakah orang tua/ paman/ kakek/ mereka meninggalkan utang atau tidak. Mempuunyai buku khusus (atau perangkat digital yang mudah diakses) untuk mencatat kewajiban utang adalah sesuatu yang patut dipertimbangkan.

Dengan pendapatan Rp 10.000.000 – 20% cicilan utang/ KPR/ KKB Rp 2.000.000 = sisa pendapatan Rp 8.000.000
  1. Kewajiban zakat

Zakat merupakan kewajiban yang haruus direncanakan pembayarannya. Bagi banyak keluuarga yang bergantung pada pendapatan bulanan, membayar zakat (atau pajak) tahunan yang mungkin nilainya lebih dari sebulan gaji ketika jatuh tempo terasa agak memberatkan. Oleh karena itu, kita bisa menyisihkan zakat harta setiap bulannya antara 5-10% bergantung pada estimasi total kewajiban zakat harta kita setelah cukup tahuun (haul) nantinya.

Kalau diasumsikan total harta wajib zakat kita (sudah genap setahuun dan sampai hisab) adalah sebesar Rp 500.000.000, kewajiban zakat kita 2,5% dari Rp 500.000.000 adalah sebesar Rp 12.500.000 per tahun. Tentu saja, kalau ada harta kita yang berupa hasil pertanian, kadar zakatnya harus disesuaikan menjadi 5% untuk hasil dari lahan yang beririgasi dan 10% untuk hasil dari lahan tadah hujan.

Sebagian besar ulama juga mewajibkan zakat atas pendapatan yagn sudah sampai nishab 85 gram emas dalam setahun, yaituu sejumlah 2,5% dari pendapatan tersebut. Jadi, selain menyisihkan 5% untuk membayar zakat mal pada akhir tahuun atau di bulan Ramadhan, perlu juga dibayarkan 2,5% x pendapatan bualanan kepada mustahiq yang ktia pilih, atau melalui amil zakat yang kita percaya.

 

Zakat profesi 2,5% x Rp 10.000.000 = Rp 250.000

Cicilan zakat mal 10% x Rp 10.000.000 = Rp 1.000.000

Sisa = Rp 8.000.000 – Rp 1.250.000 = Rp 6.750.000

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *