Praktik Sakinah Finansial: Alokasi Pengeluaran II

Kebutuhan pokok keluarga

Belanja kebutuhan pokok merupakan komponen terbesar dari sleuruh pengeluaran keluarga karena kita bekerja memang untuk bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, membeli pakaian untuk menutupi badan kita, dan memastikan rumah tempat kita tinggal berfungsi dengan baik. Meskipun tidak ada aturan yang bakuu mengenai proporsi belanja harian yang harus disediakan, secara konservatif sebaiknya total belanja kebutuhan pokok diusahakan berkisar antara 40-50% dari total pendaptan bulanan. Memang tidak semua keluauurga akan bisa membuat anggaran seleluasa ini karena banyak dari kita yang mungkin pendapatan bulanan tidak mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Secara hitungan kasar, secara umum, keluarga dengan tiga anak di jakarta dan sekitarnya memerlukan antara Rp 2-3 juta aebulan untuuk belanja kebutuhan pokok (sayur-mayur, toiletries, perawatan bayi/ anak). Namun, ini kembali lagi ke gaya hidup masing-masing, seperti pilihan menu atau tempat belanja, seperti supermarket atauu pasar tradisional.

Perlu dimasuukkan ke dalam kategori ini juuga adalah biaya-biaya transportasi, utilities, sperti listrik, air, telepon, dan gaji asisten rumah tangga. Ini akan menyerap antara Rp 1-2 juta per buulan untuk keluarga dengan 5 orang anggota keluarga. Secara konservatif, total kebutuhan pokok bulanan sebaiknya tidak melebihi 50% dari seluruuh take home pay. Jika tidak, kewajiban lain, seperti membayar cicilan, tabungan, investasi, atau keperluan emergensi akan tidak bisa dipenuhi.

Total kebutuhan pokok keluarga:

Makanan Rp 3.000.000 + utilities Rp 2.000.000 = Rp 5.000.000

Sisa pendapatan Rp 6.750.000 – Rp 5.000.000 = Rp 1.750.000

 

  1. Biaya pendidikan

Pengaturan biaya pendidikan adalah bagian yang paling menantang karena bisa menjadi sangat mudah dan muurah atauuu menjadi sangat mahal bergantung pada pilihan sekolah yang kita inginkan. Untuuk bagian ini, kita akan membahas hanya biaya buulanan rutin atau insidental, sementara biaya masuk atau uang pangkal akan dibahas dalam bagian tersendiri, yaitu Tabungan Dana Pendidikan.

Sekolah negeri biasanya membutuhkan biaya ruutin bulanan yang relatif wajar karena SPP yang ringan dan banyak kebutuhan belajar yang disubsidi oleh negara. Sementara, sekolah swasta yang bagus mengenakan SPP yang sangat besar, biaya ekstrakulikuler, dan lain-lain aktivitas yang juga amembutuhkan dana cukup besar. Oleh karena ituu, pilihan sekolah dan lokasinya, yang berimplikasi pada biaya transportasi, akan menentukan seberapa besar alokasi pendapatan uuntuk biaya pendidikan anak-anak kita.

Terkadang memang pilihannya tidak harus rasional karena pendidikan anak-anak sangat penting sehingga kita mengesampingkan hitungan rasional demi pendidikan anak yagn berkualitas. Ini sah-sah saja, asalkan kita mempunyai solusi yang telah dipikirkan, misalnya mencari pendapatan tambahan ketika biaya sekolah anak-anak diprediksi akan naik, mislanya ketika pindah jenjang dari SD ke SMP.

Dengan demikian, tidak ada acuan  yang baku mengenai berapa persen persentase biaya pendidikan anak-anak, bisa 10-30%. Namun, untuk ilustrasi, asumsi biaya pendidikan adalah sebesar Rp 300.000 – Rp 1.000.000 per bulan per satu orang anak. Biaya ini sudah mencakup SPP, biaya alat tulis, biaya eks-kul, tansportasi ke sekolah, dan lainnya. Sebagai penyederhaan, kita sumsikan Rp 500.000 per bulan untuk satu orang anak.

Biaya pedidikan Rp 500.000

Sisa pendapatan, Rp 1.750.000 – Rp 500.000 = 1.250.000

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *