Praktik Sakinah Finansial: Menunaikan Zakat

Zakat adalah pilar ketiga dalam Islam. Perintah zakat dalam al Quran dismapaikan secara khusus sebanyak 82 kali dan 32 kali lagi disebutkan secara pararel dengan perintah mengerjakan shalat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al Baqarah: 43).

Sungguh orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 277).

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetaui.” (QS. At Taubah: 103).

Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS. Ar Rum: 39).

Jenis Zakat dan Penerima Zakat

Secara umum zakat merupakan bagian infak karena perintah zakat sering disampaikan dengan menggunakan istilah infak atau shadaqah, di samping ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut ‘zakat’. Perbedaan antara zakat dan infak atau shadaqah jelas dari segi hukumnya, yaitu jika zakat adalah wajib, sementara infak dan shadaqah hukumnya sunnah.

Ada dua jenis zakat, yaitu zakat fitrah, yang bersifat wajib bagi setiap muslim pada bulan Ramadhan dan zakat mal yang wajib dikeluarkan atas setiap harta setelah mencapai nishab dan haul.

Zakat Fitrah

Zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan takran yang sudah ditetapkan bagi setiap anggota keluarga (termasuk bayi) dan tidak mengenal nishab atau haul. Waktunya juga spesifik, yaitu dari hari pertama bulan Ramadhan sampai sebelum shalat ‘Idul Fitri.

Jumlah zakat fitrah yang harus dikelaurkan adalah satu sa’ makanan untuk fakir miskin. Satu sa’ setara dengan empat madd, atau jumlah beras, gandum (atau jenis yang lain) yang dapat diraub ketika seseorang menyatukan kedua tangannya bersama-sama.

Zakat Mal

Zakat harta adalah zakat hasil yang diperoleh dari mata pencaharian, baik itu hasil pertanian, hewan ternak, hasil perniagaan/ bisnis, barang temuan/ tambang, maupun emas dan perak yang dibayarkan sesuai dengan takaran yang disyariatkan.

Harta wajib zakat harus sudah sampai nishabnya dan telah dimiliki genap satu tahun atau kelipatannya, berulang setiap setahun sekali, atau bis ajuga saat diperoleh seperti barang temuan. Nilai nishab dapat dihitung dengan menggunakan nilai emas atau perak. Nishab emas menurut jumhur ulama adalah sama dengan 85 gram emas murni, sedangkan nishab perak adalah sama dengan 672 gram perak murni.

Harta yang Wajib Zakat dan Cara Menghitungnya

Zakat mal

Zakat mal adalah zakat atas segala jenis harta yang kita miliki, baik bergerak maupun tidak bergerak, seperti lahan tanah, ruko, perhiasan, rumah, mobil, deposito/ saham/ obligasi, dan reksa dana. Dari nilai seluruh harta kekayaan ini yang apabila kepemilikannya sudah sampai setahun, maka wajib membayar 2,5% dari nilai bersih (net value) seluruh kekayaan tersebut. Mislanya, jika nilai bersih (market value dikurangi kewajiban-kewajiban atas aset) adalah Rp 1.000.000.000, jumlah zakat yang wajib kita keluarkan adalah Rp 25.000.000.

Zakat atas penghasilan bisnis

Zakat ini juga dihiutng 2,5% dengan metode perhitungan yang bisa dipilih sebagai berikut:

Metode pertumbuhan = modal + kewajiban jangka panjang – aktiva tetap – investasi dan hasil x 2,5%

Metode modal kerja = aktiva lancar – kewajiban lancar dan hasil x 2,5%

Zakat hewan ternak

Wajib zakat hewan ternak jika telah memenuhi kondisi nishab dna haul, yaitu jumlah minimalnya sudah dipenuhi dna dimiliki selama satu tahun. Ternak yang wajib zakat adalah domba/ kambing, sapi, kerbau, dan unta yang sehat, tidak cacat, dan tidak digunakan untuk bekerja.

Nishab untuk sapi adalah 30 ekor. Jadi, setiap 30 ekor sapi memiliki wajib zakat satu ekor anak sapi. Untuk kepemilikan 40 ekor sapi, wajib zakat berupa satu ekor sapi dewasa; dan 60 ekor sapi wajib dibayarkan dua ekor anak sapi dan seterusnya. Sementara untuk kambing, nishabnya adalah 40 ekor. Jadi, 40-79 ekor kambing, wajib zakat seekor kambing, dan kepemilikan 80-119 ekor wajib mengeluarkan dua ekor kambing.

Zakat hasil pertanian

Hasil pertanian yang wajib dizakati adalah hasil dari tumbuh-tumbuhan atau tanaman bernilai, seperti padi, gandum (biji-bijian), sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias, atau hasil pertanian lainnya. Zakat hasil pertanian wajib dikeluarkan ketika panen diperoleh, tidak menunggu satu tahun.

Nishab hasil petanian adalah 5 wasq atau setara 653 kg. Semua hasil pertanian yang tergolong makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, atau sagu, nishabnya mengikuti takaran ini 653 kg dari hasil pertanian tersebut.

Untuk produk yang lain, sperti buah-buahan dan sayur-sayuran, nishabnya disetarakan dengan harga 653 kg makanan pokok yang paling umum di tempat tersebut, mislanya beras. Artinya, ketika panen kebun mangga sudah setara nilainya dengan harga 653 kg beras, sudah wajib zakat.

Adapun kadar zakat yang wajib dibayarkan berbeda sesuai dengna jerih payah yang telah diusahakan. Untuk haisl pertanian yang diairi dengan air hujan/ sungai/ mata air, kadar zakatnya adalah 10% dari total panen. Sementara untuk lahan pernaian yang menggunakan irigasi dan biaya tambahan, kadar zakatnya adalah 5% dari total hasil panen.

Zakat pendapatan profesi

Zakat prfesi merupakan zakat kontemporer, yang diqiyaskan dengan nilai emas dan perak meskipun ada sebagian ulama yang menyandarkan kadar zakat profesi dengan zakat pertanian. Sebagian ulama juga tidak mewajibkan jenis zakat ini karena akan digunakan untuk konsumsi, sementara jika barang yang dibeli berupa rumah dan perhiasan akan tetap kena wajib zakat setelah mencapai haul.

Zakat profesi dikeluarkan ketika sudah genap bekerja selama setahun dan akumulasi harta/ net income sudah mencapai atau melebihi nishab 85 gram emas atau sekitar Rp 59.500.000 (dengan asumsi harga emas Rp 700.000/ gram). Maka, wajib zakat yang dikelaurkan pada tahun tersebut sebesar Rp 1.487.500.

Untuk pembayaran, sebagian ulama ada yang membolehkan setelah haul satu tahun atau boleh juga setiap bulan setelah gaji diterima.

Rumah dan mobil

Sebagian ulama mengatakan bahwa rumah yang ditempati dan kendaraan yang digunakan sehari-hari tidak wajib zakat. Namun, jika rumah atau kendaraan yang dimiliki untuk disewakan, keuntungan yang diperoleh kena wajib zakat dengan kadar perniagaan sebesar 2,5% setelah mencapai nishab dan haul.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *