Tip Belanja Kebutuhan Pokok

Salah satu cara mengatur belanja rutin bulanan adalah dengan memasukkan uang belanja ke dalam amplop-amplop terpisah sesuai dengan anggaran yang telah disusun.

Misalnya, anggaran belanja bulanan adalah Rp 1.500.000, sejumlah uang tersebut harus didistribusikan ke dalam amplop-amplop tadi. Biasanya kami memiliki pos-pos belanja berikut: groceries (belanja di pasar atau supermarket), toiletries (sabun, sampo, pasta gigi, dan kebutuhan harian lainnya), susu anak-anak, bensin (termasuk tol, parkir), hiusehold items (piring, lampu, antena TV, dan kebutuhan rumah tangga lainnya), pakaian, entertainment (mainan anak, buku, majalah, app, langganan koran), dan makan di luar.

Misalnya, untuk groceries dimasukkan Rp 500.000, toiletries Rp 100.000, susu Rp 200.000, dan seterusnya. Sebaliknya, penentuan jumlah alokasi masing-masing pos ditentukan bersama-sama dan kalau memungkinkan, menyusun daftar belaja (shopping list) yang akan dibeli untuk masing-masing amplop. Bisa saja list-nya ditulis di belakang amplop supaya praktis dan tidak hilang.

Selain harus selalu mencatat apa yang harus dibelanjakan, menyusun prioritas juga tidak kalah pentingnya, apakah itu berkaitan dengan prioritas antara kegunaan barang versus merek terkenal atau prioritas antara belanja kebutuhan sekolah versus kebutuhan lain.

Idealnya, ketika uang dari satu amplop sudah habis, semua pembelanjaan untuk pos tersebut harus dihentikan. Pada awalnya akan terasa berat dan akan muncul godaan untuk ‘subsidi silan’, tetapi unutk jangka panjangnya kita tidak akan pernah bisa disiplin. Sebab, sering kali kita belanja off limit bukan karena desakan kebutuhan, melainkan dorongan keinginan dan kurangnya disiplin dalam berbelanja. Perlu juga dicatat, bahwa untuk belanja rutin lain, seperti SPP, cicilan KPR, alokasi pendidikan anak, dan pengeluaran lain yang jumlahnya tetap, sebaiknya langsung di autodebit dari rekening bank. Atau, bisa juga dibuat standing intruction supaya bang mentransfer ke rekening penerima (misalnya, asuransi) pada setiap tanggal tertentu. Untuk pembayaran yang bersifat tunai, seperti SPP atau iuran TPA, bisa disiapkan amplop. Paling amannya lagi, untuk keperluan ini langsung dibayar begitu gaji diterima menskipun pembayaran belum jatuh tempo.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *