laporan keuangan

Urgensi Laporan Keuangan dalam Bisnis

Mengapa perusahaan memerlukan laporan keuangan? Meskipun pelaku bisnis UKM kurang bergantung pada laporan keuangan, namun tidak dapat disangkal banyak pengusaha UKM yang berhasil menjalankan usahanya tanpa bantuan laporan keuangan.

Kenapa Laporan Keuangan itu Penting?

urgensi laporan keuangan dalam bisnis
Photo by pixabay.com

Di sisi lain, pentingnya laporan keuangan perusahaan bagi perusahaan UKM, dapat dilihat pada beberapa kasus di bawah ini. Semua perusahaan ini merupakan perusahaan wirausaha yang didirikan oleh pemiliknya yang merangkap sebagai CEO dan rata-rata berusia di atas 15 tahun dan memenuhi usaha menengah.

Dilihat dari pembuatan laporan keuangannya, perusahaan-perusahaan tersebut sangatlah beragam. Ada yang mempunyai staf keuangan yang termasuk profesional sehingga laporan tahunan yang dikeluarkan mengikuti standar akuntansi Indonesia. Tetapi ada juga yang mengandalkan pada pihak ketiga untuk pembuatan laporan keuangannya. Proses penyusunannya pun ada yang menggunakan sistem manual, ada juga yang menggunakan perangkat lunak buatan lokal. Tetapi satu hal yang sama, yaitu kemampuan CEO-nya untuk membaca dan mengerti laporan tersebut terbatas. Sejauh penjualan bertumbuh terus dan laba selalu positif seperti yang ditunjukkan oleh Laporan Laba Rugi, maka perusahaan dalam keadaan ‘baik’. Problem yang dihadap umumnya adalah masalah dana operasi atau kebutuhan modal untuk menjalankan aktivitas bisnisnya.

Contoh Kasus Pertama

Pada kasus pertama, persoalan baru timbul saat penjualan dari perusahaan stagnan karena situasi ekonomi yang tidak mendukung. Ternyata perusahaan ini melakukan ekspansi berlebihan yang tidak memperhatikan kemampuan perusahaan jangka panjang yang sebenarnya dapat diketahui dari rasio keuangan. Dalam keadaan krisis, maka satu-satunya jalan ialah meminta penjadwalan ulang kepada bank peminjam atau investor. Dan bila hal tersebut juga tidak dapat dipenuhi maka aset tetap harus dijual untuk mengatasi kekurangan kas. Dalam keadaan kritis dan krisis semacam ini, maka pemahaman akan kondisi perusahaan dilihat dari laporan keuangan semakin dibutuhkan untuk mendapatkan jalan keluar terbaik.

Contoh Kasus Kedua

Pada kasus kedua, perusahaan juga berkembang dengan baik. Perusahaan ini juga melakukan ekspansi dalam usaha sejenis melalui anak-anak perusahaan. Kecurigaan baru muncul karena perusahaan ini merupakan perusahaan jasa, maka seharusnya ia mempunyai kas dari operasi yang relatif besar. Ternyata sebagian kas hasil operasi diselewengkan oleh seorang pejabat yang justru penanggung jawab tertinggi untuk bidang keuangan. Pertanyaannya tentu bagaimana ini bisa terjadi, karena setiap pengeluaran berjumlah besar pasti perlu persetujuan sang CEO. Isu di sini ialah antara kepercayaan dan apa yang harus minimal kita ketahui dalam soal keuangan.

Contoh Kasus Lainnya

Dalam kasus lain, perusahaan menyerahkan catatan keuangannya pada konsultan untuk pembuatan SPT tahunan. Saat terjadi kesalahan administrasi yang mengakibatkan ketidak-wajaran laporan keuangan dan SPT Tahunan, dan ini tidak disadari oleh CEO/ Pemilik usaha. Karena biasanya, mereka hanya menandatangani saja laporan keuangan dan SPT tersebut, yang berasumsi sudah ditangani oleh pihak yang kompeten. Persoalan baru muncul setelah pihak pajak meminta klarifikasi mengenai laporan yang tidak konsisten karena adanya kesalahan tersebut. Intinya, CEO harus mempunyai pengetahuan dasar tentang laporan keuangan bila ia harus menanda tangani SPT, yang dibuat oleh pihak lain termasuk stafnya sendiri.

Kasus berikutnya sebagai contoh terakhir. Perusahaan bertumbuh sesuai dengan situasi ekonomi dan tidak melakukan ekspansi. Laporan keuangan dikeluarkan secara rutin dan sejauh ini tidak ada masalah serius kecuali masalah pencatatan yang sering tercecer. Tidak mengalami kasus seperti contoh-contoh sebelumnya.

Problem di sini adalah CEO tidak dapat mengoptimalkan imbalan perusahaan terhadap ekuitas atau untuk kespansi bisnis karena keterbatasan membaca laporan keuangan. Ia tidak dapat menganalisa dan mengelola arus kas operasi secara lebih produktif, padahal perusahaan sudah pada tahap ‘maturity’.

Kasus-kasus di atas mengajarkan kita bahwa menjalankan perusahaan baik sebagai pemimpin atau menjadi manajemen di perusahaan maka kita perlu menguasai pengetahuan laporan keuangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *